Dampak Cekaman Kekeringan dan Gangguan Asap Terhadap Tanaman Kelapa Sawit

Kelapa sawit memerlukan kondisi lingkungan (iklim dan tanah) yang optimal untuk mendukung pertumbuhan, perkembangan, dan produktivitasnya. Diantara beberapa faktor iklim, curah hujan memiliki peran yang sangat penting karena merupakan sumber air utama bagi tanaman kelapa sawit. Kelapa sawit memerlukan kondisi curah hujan yang optimal, sebagai berikut:

  • Curah hujan tahunan yang cukup (minimum 1.250 mm/tahun, optimum 1.750 – 3.000 mm/tahun)
  • Curah hujan bulanan yang merata sepanjang tahun, dan sebaiknya tidak terdapat bulan kering (curah hujan < 60 mm/bulan).

Indonesia yang terletak di daerah sabuk ekuator yang memiliki iklim tropis setiap tahunnya menerima energi surya yang lebih besar daripada daerah lainnya. Pemanasan yang sangat intensif di daerah tropis akan menurunkan kerapatan udara yang menyebabkan pembentukan pusat-pusat tekanan rendah sebagai awal gejala gangguan atau anomali cuaca/iklim di daerah tropis. Gangguan cuaca tersebut seringkali menimbulkan kejadian cuaca ekstrim. Beberapa contoh fenomena anomali iklim di daerah tropis antara lain siklon tropis, El Niño Southern Oscillation (ENSO), dan Indian Oscillation Dipole (IOD).

Diantara anomali-anomali tersebut, ENSO-lah yang seringkali menyebabkan kejadian iklim ekstrim yang secara langsung berdampak terhadap tanaman kelapa sawit. Fenomena ENSO ada dua macam, yaitu El Niño dan La Niña (Gambar 1 dan 2). El Niño dapat menyebabkan kekeringan panjang dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) khususnya di wilayah selatan ekuator. Cekaman kekeringan dan gangguan asap akibat karhutla berdampak negatif terhadap tanaman kelapa sawit.

Dampak cekaman kekeringan
Secara umum, tanaman kelapa sawit akan mengalami cekaman kekeringan apabila salah satu syarat ini terpenuhi: curah hujan tahunan < 1.250 mm/tahun, defisit air > 200 mm/tahun, bulan kering > 3 bulan, dan deret hari terpanjang tidak hujan / dry spell > 20 hari.

Berdasarkan hasil-hasil penelitian terdahulu, cekaman kekeringan menyebabkan laju pertambahan pelepah daun menurun, menurunkan nilai sex ratio dan jumlah tandan buah, meningkatkan tingkat aborsi / gugur bunga dan gagal tandan, serta menurunkan produktivitas dan rendemen minyak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *