Karhutla vs Elaeidobius Kamerunicus

Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (KARHUTLA) telah melanda sebagian wilayah Indonesia terutama Sumatera dan Kalimantan akibat El Niño 2015. Daerah yang menjadi titik-titik rawan kebakaran paling luas adalah lahan gambut terutama di sekitar lahan yang telah dibuka menjadi hutan tanaman industri maupun perkebunan seperti di Sumatera dan Kalimantan. Studi kasus di Sumatera, data ASMC menyebutkan bahwa perluasan titik-titik api kebakaran mulai meningkat tajam pada akhir bulan Juli 2015 yang diambil dari satelit NOAA-18 meliputi daerah Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.

Dampak asap tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Indonesia tetapi juga di negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura yang sangat bergantung pada transportasi penerbangan. Kabut asap juga memberikan kontribusi besar

bagi peningkatan penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), bahkan juga dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, serta sulit bernapas yang disebabkan oleh adanya zat-zat zat beracun akibat pembakaran yang tidak sempurna seperti: nitrogen monoksida dan dioksida, gas sulfur, formaldehida, hidrokarbon, partikel dan zat oksidan, serta puluhan bahan beracun lainnya. Tidak hanya terhadap manusia, dampak asap juga diduga negatif terhadap keberadaan Elaeidobius kamerunicus sebagai serangga penyerbuk utama kelapa sawit.

Kajian pengaruh kabut asap KARHUTLA terhadap aktivitas kumbang E. kamerunicus sebagai serangga penyerbuk utama kelapa sawit telah dilaksanakan di Indragiri Hulu, Riau. Waktu pengamatan dimulai pada Juni hingga akhir Oktober 2015 dengan interval sebulan sekali. Bulan Juni-Juli 2015 merupakan periode dimana lahan perkebunan belum dipengaruhi oleh asap kebakaran, bulan Agustus 2015 merupakan masa peralihan sedangkan bulan September- Oktober 2015, hampir sepanjang waktu lahan perkebunan telah diselimuti asap kebakaran.

Hasil pengamatan menunjukkan adanya pengaruh asap terhadap aktivitas kumbang E. kamerunicus terutama pada kunjungan ke bunga betina reseptif.

Jumlah kunjungan kumbang E. kamerunicus ke bunga betina reseptif pada bulan-bulan sebelum asap lebih tinggi dibandingkan dengan bulan peralihan maupun bulan-bulan ketika ada asap. Meskipun demikian, populasi kumbang E. kamerunicus pada bunga jantan anthesis cenderung tetap baik pada bulan-bulan sebelum adanya asap kebakaran maupun sesudah ada asap.

Bila dihitung populasi kumbang E. kamerunicus per ha maka diperoleh data bahwa secara umum adanya kabut asap maupun setelah ada asap, populasi kumbang tidak berbeda, hanya sedikit menurun pada bulan Juli- Agustus 2015. Hal ini dikarenakan oleh ketersediaan bunga jantan anthesis yang berbeda (lebih sedikit) pada dua bulan pengamatan tersebut. Populasi kumbang E. kamerunicus pada tandan bunga jantan jauh lebih banyak dibandingkan pada bunga betina sehingga hasil penghitungan populasi kumbang per ha akan sangat dipengaruhi oleh populasinya pada bunga jantan anthesis. Oleh karena itu, populasi per hektarnya cenderung tidak berbeda tiap bulan pengamatan.

Adanya kabut asap diduga membuat perilaku kumbang E. kamerunicus menjadi berubah. Peran sebagai serangga penyerbuk dengan mengunjungi bunga betina reseptif setelah berkunjung dari bunga jantan anthesis menjadi berkurang. Kumbang kamerunicus cenderung kurang agresif dan hanya bertahan pada bunga jantan saja. Hanya saja, untuk mengetahui komponen zat beracun dari kabut asap yang dapat mempengaruhi aktivitas serangga tersebut diperlukan penelitian lebih lanjut.

Akibat menurunnya jumlah kunjungan kumbang E. kamerunicus pada bunga betina reseptif dapat mengakibatkan penurunan tingkat transfer polen sehingga penyerbukan bunga tidak berjalan optimal. Idealnya, untuk pembentukan nilai fruit set di atas 60% dibutuhkan jumlah kunjungan E. kamerunicus minimal 700 kumbang dalam setiap bunga betina reseptif. Dalam perangkap yellow sticky trap di bunga betina juga minimal adalah 125 kumbang/perangkap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *