Pengelolaan Tata Air Perkebunan Kelapa Sawit di Lahan Gambut

Berbicara mengenai gambut, kata gambut sendiri sebenarnya merupakan salah satu kosa kata bahasa Suku Melayu Banjar yang bermukim di provinsi Kalimantan Selatan. Di sana Gambut dijadikan nama dari salah satu ibukota kecamatan Gambut yang terletak kurang lebih 15 km dari kota Banjarmasin.

Wilayah kecamatan Gambut mempunyai lahan gambut yang cukup luas (tahun 1920) dan berhasil dibuka menjadi wilayah sentra produksi padi hingga sekarang. Nama lain dari gambut ini antara lain tanah hitam ( Jawa), tanah rawang (Riau) dan sepuk (Kalimantan Barat). Sedangkan berdasarkan istilah internasional, lahan rawa gambut disebut Bog, Fen, Mire dan Moor. Di Amerika Serikat lahan gambut sebut Peatland.

Berdasarkan terbentuknya tanah gambut terbentuk secara insitu yang merupakan hasil dari penimbunan bahan- bahan organik sisa-sisa tanaman yang telah mati, dimana laju deposisinya lebih cepat dari pada laju dekomposisinya akibat adanya suasana anaerob dari lingkungan yang jenuh air.

Tanah gambut disusun terutama dari bahan non- klorofil (ranting, batang, akar) yang berasal dari bahan sisa pelapukan bahan dasar dan hasil polimerisasi/kondensasi.

Suatu ekosistem gambut adalah satu tatanan unsur gambut yang merupakan satu kesatuan utuh menyeluruh yang saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitasnya. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Andriesse pada tahun 1988 dan Wahyunto pada tahun 2005 disebutkan bahwa tanah gambut tropika secara alami memiliki kapasitas mengikat air yang sangat tinggi, hal ini berkaitan dengan jumlah makropori dan porositas yang sangat tinggi. Kapasitas tanah gambut untuk mengikat air berkisar 300% – 1000% w/w). Namun demikian, menurut penelitian Kurnain tahun 2008 disebutkan bahwa jumlah air paling besar merupakan air gravitasi dan terikat kuat oleh partikel padat tanah gambut. Pengembangan kelapa sawit atau tanaman

penelitian Kurnain tahun 2008 disebutkan bahwa jumlah air paling besar merupakan air gravitasi dan terikat kuat oleh partikel padat tanah gambut. Pengembangan kelapa sawit atau tanaman pangan/perkebunan lainnya pada lahan gambut mensyaratkan adanya drainase tanah untuk menciptakan area yanng sesuai untuk perkembangan akar tanaman kelapa sawit. Hasil penelitian Szajdak and Szatylowicz tahun 2010 menunjukkan bahwa drainase tanah gambut yang berlebihan (excessive drainage) dapat menyebabkan penurunan muka air tanah gambut secara tidak terkontrol, tanah gambut mengering dan bersifat hidrofobik, serta mudah terbakar, sehingga diperlukan upaya sistematis dan terpadu untuk tetap menjadikan fungsi Ekosistem Gambut lestari yaitu dengan menerapkan sistem tata air yang baik.

Fungsi sistem tata air (water management) adalah mengeluarkan (mendrainase) kelebihan air tanah gambut untuk menciptakan ruang perakaran tanaman dan jug untuk mengontrol muka air tanah dan mengkonservasinya dengan mencegah terjadinya aliran keluar (drainase) air tanah. Untuk mengakomodasi dua hal tersebut maka terdapat dua kondisi level muka air tanah yang berbeda pada saat musim hujan dan musim kering. Menurut Lim dkk yang melakukan penelitian pada tahun 2012 menyatakan bahwa sistem tata air dilakukan sebagai upaya untuk memelihara ketinggian muka air tanah gambut pada kisaran 50 – 70 cm di saluran atau pada kisaran 40 – 60 cm pada areal tanaman (pembacaan piezometer). Sistem ini harus dapat mengeluarkan kelebihan air di permukaan atau sub- permukaan secara cepat pada saat musim hujan dan menahan air tanah pada kisaran kedalaman yang telah ditentukan selama mungkin pada saat musim kering.

Pada pengembangan tanaman kelapa sawit di lahan gambut tebal, dimensi saluran tata air. Saluran primer (main drain) berfungsi mengalirkan air langsung ke daerah pembuangan akhir antara lain sungai atau kanal outlet.

Saluran sekunder (Collection drain) selain sebagai batas blok juga berfungsi menampung air dari areal tanaman atau dari saluran tersier, sedangkan saluran tersier (field drain) berfungsi mengalirkan air ke saluran sekunder dan menampung air dari areal tanaman. Terkait dengan saluran tersier, saluran ini dibuat hanya jika diperlukan (sesuai kebutuhan) yaitu untuk mendrainase  atau menurunkan muka air tanah agar sesuai standar pada areal- areal tertentu yang masih sering tergenang, misalnya pada bagian tengah blok tanaman.

Prinsip desain tata air adalah bersifat efektif, artinya jumlah dan ukuran saluran seminimal mungkin namun tetap memiliki fungsi drainase yang efektif (cepat) jika terjadi kelebihan air pada saat musim hujan. Jumlah dan ukuran yang minimal diharapkan mampu untuk menjaga kehilangan air dan mempertahankan selama mungkin selama terjadi musim kering.

Untuk mengatur tinggi muka air, maka perlu pembuatan sekat-sekat air ditempat- tempat tertentu, seperti di pertemuan saluran primer dengan sungai/outlet, di saluran primer, dan pada saluran sekunder. Sekat-sekat air berfungsi untuk mengatur muka air tanah pada saluran, sehingga muka air tanah di dalam blok tanaman dapat dipertahankan pada kedalaman sesuai standar.

Sekat air secara sederhana dapat dibuat dari karung- karung berisi tanah mineral (soil bag) dan disusun bertumpuk dengan ketinggian sampai permukaan saluran.

Sisi sekat air sebelah dalam dilapisi dengan plastik dari bahan terpal untuk mencegah kebocoran sekat air tersebut. Sekat air juga dilengkapi dengan fasilitas over flow yang berfungsi untuk membuang kelebihan air di dalam saluran keluar menuju saluran utama. Over flow diatur sedemikian rupa sehingga diperoleh kedalaman muka air tanah di dalam blok tanaman sesuai standar.

Kedalaman muka air tanah di dalam blok tanaman dikontrol menggunakan piezometer yang dibuat dari bahan pipa PVC berukuran diameter 2 inchi dan panjang 140 cm atau disesuaikan dengan kondisi muka air tanah. Setiap blok tanaman dipasang minimal 2 buah piezometer yang dipasang di tengah blok.

Piezometer dilengkapi dengan tutup untuk menjaga agar tidak terisi oleh tanah atau seresah. Pengukuran kedalaman muka air tanah dilakukan dengan cara memasukkan meteran kayu ke dalam piezometer sampai mencapai permukaan air tanah (ditandai dengan basahnya bagian meteran kayu yang tercelup ke dalam air). Kedalaman muka air tanah terbaca pada meteran sampai dengan tanda basah pada meteran.

Dalam rangka pengawasan yang efektif dan pembuatan jadwal kontrol, maka perkebunan di lahan gambut harus dilengkapi dengan peta tata air. Peta antara lain memuat arah aliran air, lokasi pintu-pintu air, pengukur level muka air, dan lain-lain.

Disamping itu, pada beberapa perkebunan penanggungjawab tata air didelegasikan ke satu orang staf setingkat Asisten yang membawahi beberapa mandor dan pegawai.

Sementara itu, pemeliharan sarana tata air agar dilakukan secara rutin dengan rotasi disesuaikan dengan kondisi sarana tata air tersebut.

Pemeliharaan antara lain berupa pembersihan gulma air yang memenuhi saluran dan pembersihan lumpur yang terakumulasi dalam parit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *