Sistem Peremajaan Kelapa Sawit Untuk Rakyat

Saat ini, kebutuhan peremajaan di Indonesia semakin meningkat. Menurut Kurniawan, pada tahun 2014 saja, kebutuhan peremajaan tersebut adalah 110.669 ha dimana 25% (27.553 ha) adalah perkebunan rakyat. Tentunya jika ini tidak ditangani dengan serius, kebutuhan ini akan terus meningkat.

Banyak petani yang belum mengetahui kapan saat yang tepat untuk melakukan peremajaan. Padahal tindakan peremajaan ini sangat penting untuk keberlangsungan pendapatan petani. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan kenapa peremajaan tersebut perlu dilakuan, antara lain: (1) Umur tanaman sudah tua (>25 tahun); (2) Produktivitas tanaman rendah (<12 ton TBS/ha/th); (3) Kesulitan panen (tinggi tanaman >12 meter); (4) Kerapatan tanaman rendah (<80 pohon/ha) (5) Bahan tanaman tidak unggul (illegitim) yang mengakibatkan rendahnya produktivitas tanaman. Dengan demikian, peremajaan ini bertujuan untuk sistem peremajaan kelapa sawit.

Secara umum, terdapat 4 sistem peremajaan kelapa sawit yang dilakukan perkebun yaitu sistem tumbang serempak, underplanting, sistem tumbang bertahap dan sistem tumpang sari (intercropping).

Namun pertanyaannya manakah sistem peremajaan yang paling sesuai untuk perkebunan rakyat?

Pada prinsipnya, sistem peremajaan yang tepat untuk perkebunan rakyat harus memperhatikan bagaimana petani tetap memproleh pendapatan pada saat mereka melakukan peremajaan hingga memasuki masa tanaman menghasilkan (TM).

Sistem tumpang sari dianggap paling tepat, hal ini dikarenakan petani masih memperoleh pendapatan selama masa tanaman belum dapat menghasilkan. Pada dasarnya sistem tumbang sari mirip dengan tumbang serempak, hanya saja areal yang seharusnya ditanami kacangan diganti dengan tanaman semusim seperti kedelai, jagung, kacang tanah dan lain sebagainya. Luas areal yang dapt ditanam dengan tanaman semusim teresebut seluas 60-75% (TBM-1) dan 45-50% (TBM-2)

Program BPDP dalam peremajaan kelapa sawit untuk rakyat

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau lebih dikenal dengan BPDP Sawit selaku pengelola dana perkebunan kelapa sawit memiliki program utama dalam Peremajaan Perkebunanan Rakyat. Seperti dilansir dari Deri Ridhanif dalam acara Pertemuan Teknis Kelapa Sawit (PTKS) Regional Riau 2016, program ini merupakan program pergantian tanaman kelapa sawit berumur >25 tahun milik petani dengan tanaman kelapa sawit yang baru. Selain itu, terdapat juga program peremajaan dini, dimana tanaman kelapa sawit rakyat yang berumur 10-25 tahun diganti dengan tanaman baru dengan syarat produksi dibawah 10  ton/ha/tahun akibat dari penggunaan benih palsu.

Menurutnya lagi, Dalam mendapatkan dana tersebut, ada beberapa persayaratan yang harus dipenuhi oleh petani, antara lain: petani merupakan petani swadaya/plasma/ex-plasma dan memiliki kebun  kurang dari 4 hektar per petani, lahan kebun telah atau berpotensi untuk mendapatkan sertifikat ISPO, luas setiap proyek peremajaan berkisar antara 300-800 hektar (satu hamparan atau lahan masih berdekatan), dan petani masih tergabung dalam koperasi/kelompok tani.

“Bantuan dana sawit ini berbentuk hibah (grant) dan akan diberikan melalui transfer yang disepakati oleh petani dan bank. Besarnya bantuan dana untuk peremajaan tahun 2016 adalah Rp 25.000.000., per hektar dan petani wajib bekerjasama dan mengikat akad dengan bank” ujar Deri dalam acara PTKS tersebut.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *